Lintasgoal.com-DIHADANG imbang Laos, peluang kesebelasan nasional Indonesia mengecil. Kendati kecil, kesempatan untuk melejit dari Grup B Piala AFF 2012 belum habis. Berlaga pun baru sekali, masih ada dua panggung lagi.
Rabu (28/11/2012) sore, Andik Vermansyah cs sudah harus berhadapan dengan mulut singa yang menganga. Hanya kecerdikan jua yang akan meloloskan skuad Garuda Merah-Putih dari terkaman musuh. Tanpa kecerdikan, maka tim ini niscaya menuai kekalahan.
Menilik pertandingan pertama, sektor belakang dan barisan depan perlu dibenahi pelatih Nilmaizar. Bek kurang ketat mengawal lawan, striker tumpul di penyelesaian akhir.
Pada kuartet belakang, hanya di kanan – Raphael Maitimo – yang menunjukkan performa stabil, bahkan mampu menceploskan satu gol, selama bermain 90 menit. Duet penjaga jantung pertahanan, Handi Ramdhan dan Wahyu Wijiastanto, mesti lebih rapi berbagi tugas: siapa menutup ruang dan siapa yang membayangi pergerakan lawan. Posisi bek kiri, yang jadi titik lemah saat lawan Laos, boleh diisi pemain baru. Valentino Telaubun pantas diberi kesempatan.
Di depan, winger kiri tak akan cukup efektif untuk menyokong target tunggal, Bambang Pamungkas. Rahmat Syamsuddin bisa menjadi alternatif pengganti Okto, buat menyisir sayap lapangan, menggiring bola cepat, dan melakukan gerakan kombinasi satu-dua.
Urusan cetak gol, Vendry Mofu mesti lekas diinstruksikan agar lebih banyak mencoba tembakan jauhnya. Bukan hanya sekadar mengetes kemampuan teknis kiper muda, Izwan Mahmud. Mental Izwan diperkirakan belum sestabil rekan-rekan seniornya, di situlah celah yang harus dimanfaatkan timnas kita, jadi hantam bola setepat mungkin ke arah gawangnya.
Lawan kedua, kali ini Singapura, dipastikan tetap tampil dengan patron 4-1-4-1. Coach Radojko Avramovic termasuk pelatih ortodoks yang jarang mengubah pola kemenangan, terutama bila penampilan timnya dinilai cukup memuaskan.
Dicermati secara lebih awas, poros kekuatan The Lions sebenarnya hanya bertumpu pada skema (2)-(1)-(2)-(1). Rinciannya, sebagai berikut:
Ada (2) poros di tengah-kanan pada barisan belakang: Baihaki Kaizan dan Daniel Bennet. Baihaki dibekali keberanian menyergap di kesempatan pertama tanpa kompromi, beringas tapi lugas. Bennet sering membantu serangan dan mengintai peluang mencetak gol lewat tendangan kuat dari jarak jauh.
Penopangnya, (1) Harris Harun, berperan makin matang sebagai jangkar. Cara bermain mantan kapten Singapura di SEA Games XXVI 2011 ini begitu dingin dibubuhi kesigapan. Tekelnya pun keras namun bersih.
Empat baris gelandang diotaki oleh (2) gelandang serang Shi Jiayi berduet Shahril Ishak yang lebih condong bertindak mirip penyerang lubang. Ujung poros (1) striker Khairul Amri amat potensial mengonversi serangan tajam walau dibiarkan bertarung sendirian di depan.
Enam poros inti tersebut ditambah penyerang naturalisasi, Alexandre Duric, patut diberi kredit sebagai para pemain yang kesemuanya bisa mengancam pertahanan Indonesia. Di atas kertas, Singapura sedang berada dalam sejarah, kondisi, dan materi lebih baik. Sedangkan, para pemain kita minim pengalaman di kancan internasional. Mereka pun menyandang beban berat di tengah kisruh pengurus organisasi nasional.
0 comments:
Post a Comment